Catatan Dunia Pendidikan Indonesia

Jadilah Pelajar Kreatif nan Kritis yang Akan Memajukan Indonesia di Masa Depan!


Kisah ini dimulai ketika saya sedang membaca artikel-artikel di kompasiana. Sebuah situs berkonsep citizen journalism yang menurut saya membuatnya seperti kumpulan blogger. Karena di kompasiana, saya seperti menemukan artikel-artikel bagus nan inspiratif yang kadang luput dari perhatian karena blog penulisnya tidak terlalu saya kenal. Kompasiana seperti katalog inspirasi bagi saya. Begitu beragam, multikultural, dan tentunya membuat kita lebih nyaman untuk memilih.

Namun, inti kisah ini bukanlah tentang kompasiana, tetapi tentang perasaan siswa. Gelar umum pada diri saya yang sebentar lagi akan berganti menjadi mahasiswa. Di sinilah saya: masa transisi. Dimana saya bukan lagi siswa, tetapi juga belum menjadi mahasiswa. Masa penuh perenungan yang membuat saya ingin mencurahkannya dalam sebuah tulisan.

Kisah ini berlanjut ketika saya membaca sebuah artikel (di kompasiana tentunya) yang bertutur tentang keterasingan siswa dalam dunia pembelajaran. Penulis membandingkan keterasingan siswa tersebut dengan teori Karl Marx tentang keterasingan buruh dalam dunia sosial-ekonomi. Ia membanding buruh yang dikejar target produksi dengan siswa yang dikejar target nilai dan lulus. Ia juga membandingkan buruh yang tidak merasakan makna dari barang yang diproduksinya dengan siswa yang juga tidak merasakan makna dari pembelajaran dan produk-produk pikirannya.

"Jawaban-jawaban soal, catatan & buku bacaan pelajaran menjadi tidak bermakna lagi ketika mereka telah menyelesaikan studi. Siswa kita terasing dari produk pikirannya dalam mencari jawaban soal-soal. Sedikit sekali dari peserta didik kita yang menjiwai materi pelajaran yang diberikan. Tdk ada internalisasi nilai-nilai." Salah satu kutipan yang paling menohok saya dan membuat saya tergerak untuk membaginya dalam status facebook agar teman-teman yang lain juga bisa ikut merasakannya.

Benar saja. Setelah lulus UAN dan masuk sosiologi UI, modul-modul dan kertas-kertas soal itu tak lagi bermakna bagi saya. Menyentuhnya pun saya kini tak pernah. Ini menyiratkan bahwa niat saya belajar di sekolah dan bimbel selama ini ternyata hanya untuk sekadar lulus saja. Berbagai retorika tentang pendidikan yang saya sampaikan di blog ini ternyata masih belum bisa menjadikan saya berbeda dari siswa-siswa lainnya. Saya tetap saja menjadi korban dari keterasingan pembelajaran.

Salah satu bentuk keterasingan lainnya adalah perasaan bahwa hanya sekolahlah satu-satunya harapan. Sama seperti buruh yang merasa hanya pekerjaannya itu sajalah satu-satunya cara untuk bertahan. Aktivitas sekolah benar-benar sudah mendarah daging dalam diri saya. Sehingga ketika kini libur panjang yang juga merupakan masa transisi dalam dunia pembelajaran saya menjadi seperti kehilangan sesuatu. Sebuah aktivitas rutin yang dulu menghabiskan sekitar 1/4 waktu saya dalam satu hari. Akan tetapi, meski merindukannya, saya tetap saja tidak terlalu merasakan makna pembelajaran di dalamnya. Rasa kerinduan kosong. Seperti perokok yang tidak tahu enak rokok, tapi mengaku tidak enak jika tidak merokok.

Meski baru sedikit, untungnya saya sudah menemukan aktivitas baru yang dulu mungkin hanya jadi sambilan saja: Membaca. Alhamdulillah, kini mulai rutin saya lakukan. Saya harap ini bisa sedikit mengisi kekosongan makna pembelajaran di tengah masa transisi penuh kecamuk batin ini. Saya pun berharap bisa seperti seseorang yang cukup saya kagumi dalam bidang kepenulisan. Dan ternyata, salah satu langkah yang beliau lakukan adalah membaca hingga 12 jam dalam satu hari. Bayangkan! Setengah dari jatah waktunya dalam satu hari.

Ibarat sedang berdiri di atas jembatan. Semoga kerinduaan saya akan masa lalu (siswa) dan kepenasaranan saya akan masa depan (mahasiswa) mampu melahirkan optimisme baru yang membuat setiap jejak langkah saya bernilai dan bermakna. Bukan hanya dalam konteks kemahasiswaan nanti, lebih luas, yakni dalam dunia pembelajaran. Dunia penuh mimpi, optimisme, dan ketekunan demi meraih kearifan yang tersusun dalam mozaik-mozaik kehidupan.

Salam Kreatif - Kritis,
Alfisyahrin

20 komentar

  1. munir ardi  

    tulisan yang sangat bagus , rasanya aku sudah lupa menulis seperti ini, karena udah terlalu lama selesai dari universitas

  2. secangkir teh dan sekerat roti  

    salam hangat!
    benar2 menggugah!

  3. Alfisyahrin  

    @munir ardi
    Itulah mas. Kita memang jadi korban keterasingan pembelajaran. Tapi jangan menyerah dong, ayo belajar lagi...

    @secangkir teh dan sekerat roti
    Salam hangat kembali! Terimakasih :)

  4. rheza prasetya  

    tulisan lu bagus fi. pas banget sama problema yg lagi dirasain sama kita2 yg sekarang ada di masa transisi ini.

    gw sendiri sering bingung, karena udah kehilangan rutinitas biasa yaitu di sekolah, mengenai apa yg mesti gw lakuin untuk ngisi waktu luang. (and well, baca buku sepertinya jadi opsi yg menarik. ada yg punya bukunya andrea hirata yg baru? minjem dong. hehehe)

    di samping itu, masa transisi ini juga buat gw merasa balik ke masa mencari-cari jati diri. seperti ada dorongan dari diri sendiri yg menginginkan kita bersikap dewasa.

    "hey apakah gw yg sekarang udah dewasa?"..
    ohhh tidak, gw rasa ga ada orang dewasa yg sesumbar mengaku dirinya dewasa :D

  5. Alfisyahrin  

    Ckckck, beli dong zha. Ada quote menarik nih dari Ayah gw: "Jangan pernah merasa rugi untuk membeli buku" dan "Ayah akan selalu ada uang untuk membeli buku".

    Tepat sekali! Masa transisi memang masa paling pas utk merenung, kembali memperhatikan diri, dan bertanya dalam hati: "Sebenarnya apa sih yang mau saya lakukan?"

  6. ibe  

    terkadang da anak orang kaya yg g mau sekolah ato kuliah, malah ia dipaksa ortunya untuk meneruskan skulnya. di balik itu ada anak orang miskin yg pengen sekolah tp g da biaya..

    salam ibe

  7. Yogi  

    Menarik sekali..
    mengulik kemapanan, atau mungkin, ke-stagnan-an, yang terjadi pada diri para pe(mbe)lajar.

    salam kenal. :)

  8. Hedon  

    mantap banget tulisannya....

  9. renra  

    maksih ya artikelnya..

  10. aris  

    artikelnya bagus,
    salam kenal...
    need IT???
    http://www.linovtech.com

  11. Download Ebook Gratis  

    mantab dan bagus banget nich blognya, kunjungan balik ya bro di download ebook gratis

  12. Tira  

    wah kalo semua anak Indonesia kaya gini, pasti negara ini jauh lebih baik :)

  13. cs  

    thanks a lot for your valuable sharing ,right from the beginning till end it was really very informative..........

    DOG LIFE JACKET

  14. Nasim  

    I think it is the famous article in all. Every person please visit this site and read this article. It will be provide lot of helpful and interesting things for us.
    Mission Hills Real Estate

  15. dubaiexperies  

    Cool post very informative I just found your site and read through a few posts although this is my first comment, i'll be including it in my favorites and visit again for sure
    Leucadia Real Estate

  16. nesar  

    Very interesting ..
    searched his establishment, or perhaps , to the stagnant , that happens to all the mbe learning .
    Lakeside Home Search

  17. nurgiantoro  

    saya jadi inget.....
    saya habis lulus juga gak pernah lagi nyentuh yang namanya pelajaran, kadang yang saya rasain juga cuma pengen lulus... kenapa gitu ya?

  18. Alfisyahrin  

    Seperti yang sudah saya jelaskan di atas, inilah jebakan dunia pendidikan kita. Kita memang seperti tak berdaya terhadap arus besar ini.

  19. watch gossip girl  

    Hello!, I am visiting your site third time to see more of your useful insights. I found this really inter­est­ing and felt compelled to com­ment a appreciative thank you for all your effort. Please continue the great work your doing!

  20. Anonim  

    makasih..

Poskan Komentar

Artikel yang Berhubungan

Twitter