
Entah mengapa, saya lebih suka menyebutnya cita-cita daripada mimpi. Meski mimpi memiliki efek lebih dramtis, cita-cita terkesan lebih konkret dan lebih dekat dengan maksud yang sebenarnya: hasrat tentang masa depan. Itu pun yang mendasari saya menamai kategori ini dengan nama Cita-Cita dan Masa Depan.
Karena kehabisan ide untuk posting, akhirnya saya iseng membuat status Facebook yang menanyakan cita-cita teman-teman saya dan hal apa yang melatarbelakanginya. Alhamdulillah, ada tiga orang teman yang komentar dan mengutarakan cita-citanya. Selain membahas cita-citanya, saya juga akan membahas pandangan saya tentang karakter mereka masing-masing. Saya harap, posting ini secara khusus bisa menambah semangat mereka untuk meraih cita-citanya.
Penasaran? Inilah cita-cita-mereka:
1. Azizah Febrianti Fasha
Bercita-cita menjadi seorang birokrat. Cita-citanya itu didasari oleh rasa keprihatinannya terhadap sistem birokrasi yang belum mampu memberikan pelayanan yang baik kepada masyarakat. Azizah menjadikan kualifikasi baik dan bermoral sebagai karakter diri yang akan membawanya dalam misi pelayanan sekaligus melakukan reformasi untuk sistem pelayanan yang lebih baik tentunya.
Saya lihat, Azizah memang sosok yang berkualitas, rajin, ulet, dan bermoral. Selain selalu meraih peringkat pertama di kelasnya semasa SMA, setahu saya dia juga tidak pernah mendapatkannya dengan cara yang tidak halal seperti menyontek. Dengan modal karakter itu, PR Azizah tinggal meningkatkan wawasannya tentang dunia sosial-politik dan kebijakan publik. Oya, satu lagi, saya harap Azizah juga bisa seperti Bu Sri Mulyani. Tidak hanya cerdas dan bermoral, tetapi juga berani menghadapi tantangan.
2. Poppy Kampani
Bercita-cita menjadi seorang pengusaha ekspor. Dia ingin sekali ada banyak barang-barang di luar negeri, khususnya Prancis katanya, yang berlabel “Made in Indonesia”. Saya lihat, Poppy memang sosok yang gaul, komunikatif, dan sociable. Sebuah modal karakter yang sangat berharga untuk menjadi pengusaha. Tetapi, saya sendiri kurang tahu, apakah dia sudah punya lingkaran pergaulan yang bercita rasa pengusaha. Karena pengusaha adalah profesi yang seninya adalah mencoba sehingga lingkungan yang mendukung adalah salah satu syaratnya. Semoga, Poppy bisa memperlebar lingkaran pergaulannya khususnya di kalangan pengusaha. Oya, jangan lupa, baca juga buku-buku tentang bisnis dan biografi orang-orang sukses di bidang bisnis. Modal karakter memang penting, tetapi memperkayanya dengan wawasan itu lebih penting.
3. Zulfikar
Bercita-cita menjadi seorang entrepreneur. Agak mirip dengan Poppy, tetapi Zulfikar lebih memilih perekonomian Islam sebagai tema utamanya. Didasari oleh keprihatinannya pada bangsa Indonesia yang seperti dijajah oleh para entrepreneur barat dan timur asing, dia menjadikan persatuan entrepreneur muslim yang memang mayoritas di bangsa ini sebagai alat untuk meruntuhkan dominasi entrepreneur asing di bangsa ini.
Saya lihat, Zulfikar itu sosok yang sociable dan berani mencoba. Modal karakter yang seperti hanya tinggal menunggu waktu saja untuk merintis bisnisnya. Zulfikar hanya membutuhkan satu ide yang ia yakini akan berhasil, maka dia pun akan segera memulai. Untuk itulah, Zulfikar harus memperkaya wawasannya demi mendapati ide tersebut. Baca buku bisnis dan biografi pebisnis sukses nampaknya sebuah pilihan yang menarik. Oya, karena Zulfikar menjadi perekonomian Islam sebagai tema utama, dia pun harus memperkaya wawasannya dalam bidang tersebut.
Ya! Itulah cita-cita mereka. Misi mulia seorang anak Bangsa yang harus kita perhatikan. Kenapa? Karena tanpa kita sadari, penambahan umur membuat kita tak lagi se-imajinatif dulu. Kita menjadi semakin tak peduli dengan cita-cita. Kita hanya menjalani saja, tanpa tahu apa yang kita tuju. Pikiran kita menjadi semakin pendek. Tidak lagi ada cita-cita setinggi langit. Padahal, cita-cita itu memang seharusnya tinggi dan sulit dicapai. Agar energi jiwa yang dihasilkannya pun akan lebih besar dan kuat.
Untuk itulah, saya berusa mendokumentasikan cita-cita teman saya tersebut ke dalam sebuah tulisan. Agar cita-cita mereka menjadi lebih konkret dan jelas. Lebih dari itu, mereka pun akan merasa seperti berjanji dengan dituliskannya cita-cita mereka di posting ini dan semangat untuk meraih cita-cita itu pun akan semakin besar dan kuat. Ayo kejar cita-citamu!
Salam Kreatif - Kritis,
Alfisyahrin

17 Mei 2010 10:52
Iya kalangan pembisnis, memang dari intern keluarga adalah pembisbis, ayah saya sendiri, mbah putri, mbah kakung juga demikian, om di Solo, memang rata-rata ada bakat pembisnis walau masih dalam ruang lingkup kecil ataupun menengah. Sarannya tentang baca buku-buku bisnis akan saya perdalami lagi, terimakasih yaa :)
17 Mei 2010 20:56
Wah, bagus tuh pop, kalau lingkungannya sudah mendukung. Tinggal akselerasi aja biar bisa lebih baik sebagai generasi baru. Sama-sama :)
17 Mei 2010 22:45
wow... postingan yang menarik, mas. alangkah senangnya kalau teman2 facebooker dapat jatah postingan di blog ini, hehe ...
18 Mei 2010 07:41
@Sawali Tutusetya
Terimakasih mas. Ini wujud apresiasi kepada teman2 facebooker yang sudah banyak berbagi informasi dengan saya. Hehehe...
19 Mei 2010 10:40
Nice posting! Sukses utk mereka bertiga. Semoga cita-cita mereka dan kita semua tercapai, aminnnn.... :-)
20 Mei 2010 19:51
Semoga segera terwujud segala cita-citanya yang sangat mulia tersebut...
26 Mei 2010 13:21
Amiin,fi...
Tp,d kls 1 sy ga peringkat pertama..
syukron jg saranx bwt memperdlm dunia sospol n kebijakan publik..sptx itu mang perlu bgt.
Salut dah bwt alfi,smoga jg bs trcapai cita2x.
7 Juni 2010 09:18
Cita-cita atau mimpi menurut saya sebenarnya bisa di katakan anonim hanya saja penempatannya katanya saja disesuaikan. Saya suka menggunakan kata kedua-duanya. Hanya saja untuk pemakaian kata cita-cita saya lebih suka ketika berinteraksi usia nya masih anak2 tapi kalau deengn yg usia remaja/dewasa sy lebih senang mnggunakan kata mimpi.